26 Ramadan 1435 / Kamis, 24 Juli 2014 / پنجشنبه, ۰۲ مرداد ۱۳۹۳

Jika Belum Selesai Makan/Minum ketika Waktu Imsak Tiba

Pertanyaan:

Kapan batas yang mewajibkan kita berhenti makan dan minum untuk berpuasa, dengan tetap mempertimbangkan perbedaan waktu. Apakah batasnya adalah adzan fajar pada saat muadzin mengucapkan “Allahu Akbar” atau adakah batasan lain? Bagaimana pula bila gelas masih menempel di bibir ketika saya minum sedangkan adzan mulai berkumandang?

Jawaban:

Alhamdulillah.

Kewajiban orang yang berpuasa adalah menahan diri (dari makan, minum, dan segala pembatal puasa) sejak terbitnya fajar shadiq (fajar subuh) hingga terbenamnya matahari. Allah Ta’ala berfirman,

فَالْآَنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ

“Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam …” (Q.s Al-Baqarah: 187)

Diriwayatkan Al-Bukhari (hadits no. 1919) dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha bahwasanya Bilal mengumdanngakan adzan pada suatu malam. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يُؤَذِّنَ ابْنُ أُمِّ مَكْتُومٍ ، فَإِنَّهُ لَا يُؤَذِّنُ حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ

“Makan dan minumlah sampai Ibnu Ummi Maktum mengumdanngakan adzan. Sesungguhnya dia tidaklah mengumdanngakan adzan hingga fajar terbit.”

Berdasarkan hal ini, barang siapa yang mengetahui terbitnya fajar shadiq (fajar subuh) dengan menyaksikan langsung atau melalui kabar dari orang lain, maka dia wajib meninggalkan makan minum. Barang siapa yang mendengar adzan maka dia wajib menahan diri ketika dia mendengarnya, jika muadzin melakukan adzan tepat waktu, bukan dimajukan.

Sebagian ulama mengecualikan: untuk kasus gelas masih berada di tangan seseorang ketika dia mendengar adzan, dia boleh minum sebatas kebutuhannya. Diriwayatkan Abu Daud (hadits no. 2350) dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu; dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا سَمِعَ أَحَدُكُمْ النِّدَاءَ وَالْإِنَاءُ عَلَى يَدِهِ فَلَا يَضَعْهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَهُ مِنْهُ

‘Jika seseorang di antara kalian telah mendengar panggilan (adzan, pen.) sedangkan bejana masih di genggaman tangannya maka janganlah dia letakkan bejana itu sampai dia menyelesaikan keperluannya.’ “Al-Albani berkomentar dalam Shahih Abu Daud, “Sanadnya hasan shahih. Al-Hakim, Adz-Dzahabi, dan ‘Abdul Haq Al-Isybili menilainya shahih. Ibnu Hazm menjadikan hadits ini sebagai dalil.”

Pada umumnya, muadzin saat ini mengacu pada jam dan jadwal waktu shalat, bukan atas pengamatan langsung terbitnya fajar. Hal tersebut tidak dianggap meyakinkan bahwa fajar benar-benar telah terbit. Karena itu, siapa yang makan saat itu maka puasanya sah karena dia belum yakin benar bahwa fajar telah terbit. Akan tetapi yang lebih utama dan lebih berhati-hati adalah dia menahan diri dari segala pembatal puasa ketika telah mendengar kumandang adzan.

Syekh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah pernah ditanyai, “Apa hukum syar’i terkait puasa ketika mendengar kumandang adzan fajar sedangkan orang yang mendengarnya terus melanjutkan makan dan minumnya?

Beliau rahimahullah menjawab, “Wajib bagi seorang mukmin untuk menahan diri dari segala pembatal puasa –seperti makan dan minum– jika baginya telah jelas bahwa fajar telah terbit, dan puasa yang dia tunaikan adalah puasa wajib –seperti puasa Ramadhan, puasa nadzar, dan puasa kaffarah. Dasarnya adalah firman Allah ‘Azza wa Jalla,

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا
الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ

‘Makan dan minumlah sampai telah jelas bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa hingga malam (tiba) (Q.s. Al-Baqarah: 187).’

Oleh karenanya, jika seseorang telah mendengar adzan dan dia yakin bahwa adzan itu dilakukan ketika terbit fajar maka wajib baginya untuk mulai puasa. Jika muadzin mengumandangkan adzan sebelum terbitnya fajar, tidak wajib bagi seseorang untuk mulai puasa, serta dia boleh makan dan minum sampai terbitnya fajar jelas baginya.

Jika dia tidak tahu keadan muadzin, apakah si muadzin beradzan sebelum fajar atau setelahnya, maka yang lebih utama dan lebih hati-hati baginya adalah mulai puasa ketika dia mendengar adzan. Tidak apa-apa seandainya dia minum atau makan sesuatu ketika adzan mulai berkumandang karena dia belum mengetahui terbitnya fajar (ataukah tidak, pen.).

Telah diketahui bahwa siapa saja yang memasuki kota yang diterangi lampu listrik, niscaya tidak mampu untuk mengetahui terbitnya fajar menggunakan pengamatan matanya ketika fajar benar-benar telah terbit. Akan tetapi, wajib baginya berhati-hati dalam melakukan amal dengan memperhatikan adzan dan jadwal waktu shalat yang mencantumkan batasan waktu terbitnya fajar dengan jam dan detik. Kehati-hatian ini sebagai bentuk pengamalan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Tinggalkanlah segala sesuatu yang meragukanmu menuju segala sesuatu yang tidak meragukanmu.’ Juga berdasarkan sabda beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Siapa saja yang menjaga diri dari syubhat (kesamaran) maka dia telah menjaga agama dan kehormatannya.’ Hanya Allah yang mampu mengaruniakan taufik.” (Fatawa Ramadhan, dihimpun oleh Asyraf ‘Abdul Maqshud, hlm. 201)

“Syekh Ibnu ‘Utsaimin pernah ditanya, ‘Kapan seseorang wajib menahan diri dari makan? Apakah sebagaimana perkataan orang-orang, ‘Ketika muadzin bertahlil (mengucapkan la ilaha illallah)’? Bagaimana hukumnya jika seseorang sengaja minum setelah adzan berkumandang? Apakah dia dinilai seperti orang yang minum setelah waktu ashar atau dia terhitung tetap berpuasa pada waktunya? Alasan sebagian orang, ‘Fajar itu tidak sama dengan lampu yang terang tiba-tiba. Permasalahan ini cukup longgar.’ Bagaimana hukum perkataan semacam ini?’

Beliau rahimahullah menjawab, ‘Jika muadzin melakukan adzan ketika fajar telah tampak, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda, ‘Makan dan minumlah sampai Ibnu Ummi Maktum beradzan. Dia tidak beradzan sampai fajar terbit.’ Karena itu, jika sang muadzin berkata, ‘Saya melihat fajar dan saya tidaklah beradzan hinggga saya benar-benar melihat fajar,’ maka wajib bagi semua orang untuk menahan (berpuasa) pada waktu mereka mendengar adzan, kecuali dalam kondisi yang menuntut dia mendapat rukhshah (keringanan), yaitu ketika di tangannya masih tergenggam gelas maka dia boleh menghabiskan makanan/minuman di tangannya itu. Akan tetapi, jika adzannya berdasarkan jadwal shalat, maka sejatinya jadwal shalat tidak terkait dengan waktu tanda alam yang bisa diindra, namun jadwal ini berdasarkan hisab. Dan jadwal shalat yang ada di tempat kita adalah jadwal shalat ummul qura, dan itu berdasarkan hisab. Karena mereka tidaklah melihat fajar, matahari, zawal (saat tergelincir matahari), tidak pula masuknya waktu asar, maupun terbenamnya matahari.” (Al-Liqa’ Asy-Syahri, 1:214)

Kesimpulan: hendaknya setiap orang segara menahan diri dari segala pembatal puasa ketika dia mendengar adzan, jika dia mengetahui bahwa muadzin mengumandangkan adzan tepat waktu. Jika dia sangsi akan hal tersebut, hendaknya dia hanya menghabiskan minuman yang ada di tangannnya. Karena tak mungkin disarankan, ‘Dia boleh terus melanjutkan makan dan minum sampai dia yakin fajar telah terbit.’ Dan realitanya dia tidak memiliki sarana untuk memastikan terbitnya fajar karena adanya cahaya lampu listrik. Selain itu, mayoritas orang tidak mampu membedakan antara fajar shadiq (fajar subuh) dan fajar kadzib (fajar palsu). Wallahu a’lam.

sumber : muslimah.or.id

Last modified on Friday, 18 Januari 2013 14:49

Kumpulan Artikel Konsultasi

  • 1
  • 2
  • 3
Prev Selanjutnya
Tips Merawat Organ Intim bagi Para Muslimah

Tips Merawat Organ Intim bagi Para Muslimah

Lebaran.com - Tubuh yang sehat dan sempurna merupakan salah ...

Memilih Asisten Rumah Tangga dengan Seksama

Memilih Asisten Rumah Tangga dengan Seksama

Lebaran.com - Para muslimah yang telah berumah tangga mungki...

Mari Menjadi Orang Tua yang Baik Bagi Remaja Muslim

Mari Menjadi Orang Tua yang Baik Bagi Remaja Muslim

Lebaran.com - Pendidikan agama hendaknya menjadi dasar kehid...

Kumpulan Artikel Idul Adha 1434 H

  • 1
  • 2
  • 3
Cukup Haji Sekali Saja

Cukup Haji Sekali Saja

Lebaran.com – Memang tidak ada larangan untuk melaksanakan i...

Lantai Dua Masjidil Haram Sudah Digunakan Untuk Tawaf

Lantai Dua Masjidil Haram Sudah Digunakan Untuk Tawaf

Lebaran.com – Sebentar lagi akan datang waktu puncak ibadah ...

Jamuan Makan (Walimatussafar) Sebelum dan Sesudah Berangkat Haji

Jamuan Makan (Walimatussafar) Sebelum dan Sesudah Beran…

Lebaran.com – Terutama di pedesaan, akan banyak kita jumpai ...

Kumpulan Berita Terbaru 2013

  • 1
  • 2
  • 3
It’s about lebaran.com

It’s about lebaran.com

lebaran.com is a unique interesting website to visit especia...

Lebaran in Indonesia

Lebaran in Indonesia

Lebaran.com - For Muslim around the world, Eid al-Fitr is an...

Transplantasi Negatif, Apa Itu? Pornografi?

Transplantasi Negatif, Apa Itu? Pornografi?

Lebaran.com - Wow, mendengar kata transplantasi, tentu kita ...

Kumpulan Artikel Tahun Baru Islam

  • 1
  • 2
  • 3
Meski Terjadi Kemelut, Kirab 1 Suro Keraton Solo Dijamin Aman

Meski Terjadi Kemelut, Kirab 1 Suro Keraton Solo Dijami…

Lebaran.com – Salah satu tradisi yang terkenal di Indonesia ...

Open Day di California Amerika Serikat Membawa Pemahaman Baru Tentang Islam

Open Day di California Amerika Serikat Membawa Pemahama…

Lebaran.com – Islam masih dianggap sebagai biang kerok atas ...

Benarkah Paul Pogba, Sang Gelandang Juventus Itu Seorang Muslim?

Benarkah Paul Pogba, Sang Gelandang Juventus Itu Seoran…

Lebaran.com – Pemain sepak bola Muslim memang selalu menjadi...

Facebook

Berita Lebaran Dari Media Yang Lain

Berita Lebaran Dari Media Yang Lain